TREND ZAMAN NOW MENJADI PELUANG BAGI PENGUSAHA #Part5 : Welcome Leisure Economy

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di pasar konvensional dan masih sedikit yang belanja di pasar online, maka pertanyaannya itu uangnya dibelanjakan ke mana?

Melambatnya konsumsi oleh berbagai pihak disebut sebagai salah satu realitas yang menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, belakangan ada kecenderungan terjadi perubahan pola hidup masyarakat yang memengaruhi preferensi dalam mengkonsumsi suatu barang dan jasa.

Prediksi berkurangnya konsumsi ritel di masyarakat menjadi bahan pembicaraan sekarang ini, mulai dari gaya hidup yang lebih memilih hidup sehat dengan asupan sehat dan giat berolahraga, hingga gaya hidup yang lebih memilih menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya rekreasi. Peralihan yang sebelumnya orang Indonesia gemar berbelanja, di zaman now orang lebih menggemari leisure economy menjadi jawaban yang paling tepat.

The Consumers

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, dan lain-lain.

The Shifting

Leisure-vs-Non-Leisure
Rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015

Pergeseran ini menjelaskan kenapa mall yang hanya menjual bergam produk (pakaian, sepatu, gadget, atau elektronik) seperti Glodog, Roxi, dan ITC semakin sepi. Sementara yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Grand Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai.

The Drivers

Leisure-based consumption menjadi semakin penting bagi konsumen, dibuktikan dengan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di cafe atau mall. Mengapa? Ini beberapa alasan yang membentuk leisure economy :

1. Consumption as a Lifestyle

Konsumsi kini tak hanya selalu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan, tetapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Konsumen zaman now ke Starbucks atau cafe lainnya bukan sekedar ingin ngopi atau makan, tetapi didorong dengan maraknya media sosial.

2. From Goods to Experience

Kaum middle class milennials mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Tradisi sekarang mayoritas rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk gaya hidup urban yaitu bersosialisasi di mall atau nongkrong di cafe.

3. More Stress, More Travelling

Beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

4. Low Cost Tourism

Murahnya tarif penerbangan,yang diikuti murahnya tarif hotel menciptakan apa yang disebut low cost tourism. Murahnya biaya berlibur ini menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat.

5. Traveloka Effect

Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya, ketika murahnya transportasi-akomodasi diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur.

6. Supported by the government

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu.

The Fact

Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Tak hanya itu, Cafe dan resto berkonsep experiential menjamur dan Warung modern ala “Kids Zaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Konser musik, bioskop, dan karaoke tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

Fenomana pasar tersebut semakin meyakinkan pentingnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. So, masih ragu untuk terjun langsung dalam bisnis Leisure?

Sumber :

http://validnews.co/-Leisure-Economy—Antara-Perubahan-Konsumsi–Disrupsi-dan-Potensi-rdu

https://www.yuswohady.com/2017/10/28/welcome-leisure-economy/

That’s all from me for today’s post. Hopefully this post will be useful for you guys and you’ll be more interested than before. If you guys have anything to talk about or maybe this post is really need to be improved soon. I’ll be so happy to discuss it, because I’m still learning, desperately need an advices and improvements. Please don’t hesitate to contact me, or just simply drop your comments below. See you on the next post 🙂

My Contacts :
Email : Josephinrenataa@gmail.com
IG : renatajosephin

Iklan

2 Comments Add yours

  1. dandy karunia wijaya berkata:

    Benarr, jaman now lebih menghargai moment dibandingkan barang 😋

    Disukai oleh 1 orang

    1. extrapreneur01 berkata:

      nahh iyaa, terbukti kan blog ini isinya fakta bukan opini 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s